Kamis, 03 Maret 2011

Jalan Rel

Teknologi jalan rel sulit dijelaskan tanpa mengetahui sejarah perkembangan teknologi jalan rel. Salah satunya adalah tentang sejarah perkembangan rel.
Kegunaan rel sudah diketahui oleh manusia sejak 2000 tahun SM. Jika kondisi tanah basah, maka roda akan menekan tanah sehingga meninggalkan tapak berupa cekungan ke dalam tanah, hingga lama kelamaan setelah dilewati beberapa kali tanah akan mengeras dan padat. Mendorong gerobak melalui bagian tanah yang sudah mengeras membuktikan bahwa gerobak ternyata lebih mudah didorong.
Kebutuhan mendorong gerobak di lorong pertambangan membutuhkan pengetahuan sifat istimewa dari rel, agar gerobak tidak membentur dinding lorong ditambahkan sebuah alat di bagian depan gerobak untuk menjaga agar gerak gerobak mengikuti arah lorong. Abad ke 18 digunakan jalan menggunakan papan kayu yang disebut Wagonway untuk angkutan batu bara.
Setelah besi ditemukan maka dibuat roda yang lebih tahan lama dan mclapisi permukaan roda yang bersinggungan dengan jalan menggunakan lapisan besi tipis. Selain itu besi juga digunakan untuk melapisi permukaan jalan kayu. Tahun 1767, von Reynolds melapisi lapisan kayu dengan besi cor di atasnya dengan peninggian pada sisi-sisinya.
Sejak dikenal proses pengolahan besi yang lebih efektif kemudian menghasilkan rel sebagai pengganti jalan kayu. Rel dibuat dari besi tuang dengan lekukan yang diharapkan dapat memberi arah yang tepat bagi pergerakan roda. Jalan dengan menggunakan bahan ini disebut Plateway. Tahun 1782, von Jessops menggunakan rel darl besi cor yang merubah bentuk rel dari bentuk kanal menjadi bentuk jamur sejalan dengan dibuatnya roda yang dilengkapi dengan flens.
Rel yang terbuat dari besi cor sering patah terutama pada bagian tengah. Kemudian dibuat rel yang diperkuat pada bagian tengah menjadi seperti perut ikan. Tahun 1820, mulai digunakan rel baja yang ditempa dengan kekuatan tarik yang lebih baik.
Membuat roda dengan flens terjadi ada dua pilihan yaitu flens roda pada sisi luar atau pada sisi dalam. Flens disisi luar mengakibatkan kesulitan saat belok. Terbaik adalah menempatkan flens pada sisi dalam. Roda silindris dengan flens dalam menyebabkan saat kendaraan bergerak, roda akan selalu menyentuh rel pada salah satu sisi dan terjadi gesekan yang terus menerus antara sisi dalam rel dan flens roda. Untuk mengatasinya roda dibuat kerucut.
Rel berkaki lebar mulai digunakan pada tahun 1839, dikembangkan oleh Steven yang memulai eksperimen tentang rel sejak tahun 1830.
Pembangunan jalan rel di Indonesia dimulai dengan penyangkulan pertama pembangunan badan jalan rel oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, LAJ Baron Sloet Van De Beele pada 17 Juni 1864. Jalan rel pertama dibangun oleh perusahaan swasta bernama NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) dimulai dari Semarang menuju Tanggung sepanjang 26 km dan diresmikan pada tanggal 10 Agustus 1867. Lebar spoor yang digunakan yaitu 1435 mm.
Pembangunan jalur dilanjutkan menuju Solo dan Yogyakarta kemudian diresmikan pada tanggal 10 Juni 1872. Mengingat topografi Indonesia yang bergunung maka pemerintah Hindia Belanda menetapkan lebar spoor 1067 mm sebagai lebar spoor yang lebih sesuai untuk topografi Indonesia. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, tepatnya sampai 1939, panjang jalan rel di Indonesia telah mencapai 6811 km.
Namun sejarah jalan rel di Indonesia mencatat adanya masa yang memprihatinkan yaitu pada masa pemerintah Jepang. Sepanjang kurang lebih 901 km raib, yang diperkirakan karena rel yang dibongkar semasa pemerintahan Jepang ini diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan rel di sana. Bahkan menurut data Ditjen Perkeretaapian tahun 2006, jalan rel yang beroperasi hanya 4360 km dan tidak beroperasi sepanjang 2122 km.
Jalan rel kereta api merupakan prasarana utama dalam perkeretaapian karena rangkaian kereta api hanya dapat melintas di atas jalan yang dibuat secara khusus untuknya. Lebar jalan rel yang pernah ada di Indonesia dibedakan dengan lebar spoor 1435 mm, 1067 mm, 750 mm dan 600 mm. Sedangkan tipe rel yang pernah digunakan di Indonesia meliputi tipe R25, R33, R42 dan R54.
Hampir seluruh jalan rel (baik jalan rel yang aktif maupun tidak aktif) di Indonesia saat ini merupakan aset yang bernilai sejarah sehingga menjadi salah satu fasilitas publik dan aset bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Ikon Lintas Heritage Deskripsi Perusahaan
track_cjr_icon
Bogor - Sukabumi - Bandung Jalur pertama dari Jakarta ke Bandung, yg dibangun 1881-1884. Terdapat terowongan yang pertama kali dibangun yaitu terowongan Lampegan yang memiliki panjang 686 meter. 90% stasiun masih original eks SS. Panorama bernuansa pegunungan dan pedesaan. Jarak: 140 km SS (Staatsspoorwegen)
track_pwk_icon
Cikampek - Purwakarta - Bandung Jalur kedua dari Jakarta ke Bandung, yang dibangun tahun 1902-1906 oleh SS. Terdapat terowongan Sasaksaat yang memiliki panjang 950 meter. Terdapat 400 lebih jembatan, yang terkenal yaitu Cikubang, Cirangrang, Cisomang dan Ciganea. Panorama bernuansa pegunungan. Panjang jalur: 75 km SS (Staatsspoorwegen)
track_bjr_icon
Bandung - Banjar Jalur ini dibangun untuk menghubungkan kota Yogyakarta dan kota Bandung, dibangun 1884-1894 oleh SS. Terdapat jalur menawan di daerah Leles - Lebakjero. Jalur ini naik-turun, curam dan berkelak-kelok. Terdapat jembatan Cirahong, jembatan ini memiliki keunikan yaitu satu jembatan dapat dilalui mobil/motor dan kereta api tanpa saling menghalangi). Panorama bernuansa pegunungan. Panjang jalur: 157 km SS (Staatsspoorwegen)
track_abr_icon
Tuntang - Ambarawa - Bedono Jalur ini dibangun oleh NIS untuk kepentingan mobilisasi militer Belanda dari Semarang ke Ambarawa. Jalur ini diresmikan 1873. Terdapat rel bergerigi pada rute Jambu - Bedono dan Bedono - Gemawang. Saat ini jalur cabang tidak terkoneksi dengan jalur utama kereta api (Semarang - Solo). Kawasan Stasiun Ambarawa sudah menjadi landmark kabupaten Semarang. Panjang jalur: 14.5 Km. NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij)
track_pwt_icon
Purwokerto - Purwokerto Timur Jalur eks SDS yang tersisa dan terkoneksi dengan jalur utama kereta api (Yogyakarta-Purwokerto) di stasiun Purwokerto. Jalur ini merupakan bagian dari jalur kereta api rute Purwokerto - Wonosobo sepanjang 92,1 km. Jalur milik SDS (Maos-Purwokerto-Wonosobo) mulai dibangun tahun 1893. Saat itu dibangun untuk mengangkut hasil bumi dari Wonosobo ke Cilacap. sempat digunakan sebagai angkutan Pupuk Sriwijaya dan Sement dari Cilacap ke Purwokerto Timur, namun hanya aktif sampai dengan 1985. Panjang jalur: 5 km SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschappij)

Gerbong Argo Bromo Dengan Wajah Baru

Rangkaian kereta eksekutif Argo Bromo Anggrek memiliki wajah baru. Kereta yang melayani relasi Jakarta – Surabaya PP, saat ini sedang dilakukan retrofit di PT. Industri Kereta Api (INKA) Madiun. Sejumlah 18 kereta ini direhab sebagai usaha yang tak kenal lelah dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) guna memberikan kenyamanan yang lebih terhadap pengguna jasa kereta api ini. 
Jika dilihat dari tampilan eksterior, warna putih yang selama ini sudah ada masih digunakan. Namun yang berbeda, terdapat balutan warna hijau yang tergabung dalam polet yang memanjang dari depan hingga belakang. Di samping pintu, diletakan gambar daun segar dengan tulisan dibawahnya “Go Green”, dan sudah barang tentu berwarna hijau pula.
Rangkaian Kereta Argo Bromo Anggrek, sebagian besar sudah selesia pengerjaannya di INKA
Dari penggambaran eksterior ini, melambangkan bahwa moda transportasi kereta api adalah moda yang ramah lingkungan. Serta memiliki keunggulan dalam irit menggunakan bahan bakar migas (BBM). Dari perlambangan ini juga, menunjukan bukti sebuah komitmen dari PT. KAI yang akan terus berusaha menjaga kelestarian lingkungan alam demi kebaikan bersama.
Komitmen ini, salah satunya telah dibuktikan dengan digunakannya kereta ramah lingkungan pada rangkaian KA Argo Lawu dan KA Argo Jati, dimana terdapat bak penampungan kotoran dari toilet. Sehingga kotoran yang keluar dari kereta berubah menjadi cairan yang mudah diserap oleh tanah. Dan hal ini juga diterapkan pada rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek.
Di interiornya pun terdapat perubahan-perubahan yang cukup signifikan. Pada rak penyimpanan bagasi diberikan penutup, dan pada bagian bawahnya terdapat kaca yang bisa melihat ke bagian dalam bagasi. Ini bertujuan untuk memberikan rasa aman kepada penumpang atas barang yang mereka bawa. Garis hijau yang menempel pada bagian bagasi pun dihilangkan, untuk memberikan irama yang serupa dengan warna interior kereta yang didominasi oleh warna beige. Kursinya pun diganti berwarna krem, dimana sebelumnya kain merah membalutnya. Kursi ini pun tidak kalah nyaman dan empuk untuk diduduki.
Rencananya, pada akhir Maret, rangkaian kereta ini sudah selesai dikerjakan di PT. INKA. Sehingga pada medio yang berdekatan, kereta ini bisa menghiasi jalur utara pantai Jawa untuk melayani pengguna jasa kereta api. (Humaska)
 

Jumat, 25 Februari 2011

Kereta Batik

 
Melestarikan kebudayaan Nasional merupakan sebuah kewajiban dan hak bagi setiap insan anak bangsa Indonesia. Karena dari kebudayaan inilah jati diri dan ciri sebuah bangsa yang besar bisa dinilai. PT. Reska Multi Usaha (RMU), salah satu anak perusahaan dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) membuat kegiatan yang bisa dibilang sangat unik dalam melestarikan salah satu budaya Indonesia. Dalam kegiatan yang bertajuk “Kreasi Kereta Batik dan Festival Kuliner”, yang diadakan di pelataran parkir Utara Stasiun Bandung, dari Sabtu hingga Selasa (12-15/2), RMU mencoba untuk menghias eksterior sebuah kereta penumpang dengan motif batik bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dalam acara yang dibuka oleh Wakil Direktur Utama PT. KAI, Darmawan Daud, selain menghias kereta juga diadakan bazaar kuliner khas Indonesia serta baju-baju batik dengan motif-motif yang berbeda tersebar dalam 50 stand. Selama 4 hari beragam acara pun dikemas dengan menarik, dimulai lomba mewarnai untuk siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), festival musik akustik, lomba body painting. Dan pada puncak acara, akan diadakan pencanangan kreasi kereta batik masuk dalam daftar Museum Rekor Indonesia (MURI).
                                                 
Kiri: Wakil Dirut PT.KAI, Darmawan Daud memotong tumpeng sebagai tanda dimulainya Festival Batik & Kuliner di parkir utara Stasiun Bandung, Sabtu (12/2).
Kanan: Sesaat setelah meresmikan festival, Darmawan Daud ditemani Dirut PT. RMU, Tintin Wisniwati (kanan), menyempatkan diri untuk mengelilingi stand-stand.
 
                                               
Kiri: Wakil Direktur Utama PT. KAI, Darmawan Daud menggunting pita sebagai tanda dimulainya penghiasan eksterior kereta dengan menggunakan motif batik.
Kanan: Kereta yang menggunakan motif batik serta tokoh perwayangan ini akan digunakan pada KA Argo Parahyangan yang melayani rute Bandung - Jakarta PP.
Darmawan Daud mengemukakan, acara ini bertujuan untuk menumbuh kembangkan kreativitas anak bangsa melalui seni membatik dan aneka kuliner sebagai kebudayaan bangsa yang dapat dibanggakan. “Dengan acara ini diharapkan akan mempopulerkan batik tidak hanya sebagai busana, bahkan pada media transportasi kereta api,” ujar Darmawan dalam sambutannya.
Ditambahkannya, saat ini stasiun kereta api bukan lagi semata-mata tempat naik turun penumpang saja, namun sudah saatnya juga berfungsi sebagai area komersial tanpa mengabaikan fungsinya sebagai area publik. “Semoga dengan kegiatan ini bisa memberikan suguhan yang terbaik, khususnya kepada pengguna jasa kereta api dan umumnya kepada masyarakat luas juga meningkatkan tingkat kecintaan masyarakat terhadap kereta api,” tutup Darmawan.
Sesaat setelah meresmikan pembukaan kegiatan ini, Darmawan menyempatkan diri untuk melihat ke berbagai stand yang ada. Selanjutnya melihat prosesi penghiasan kereta eksekutif yang dihias oleh motif batik. (Humaska)

Kereta Batik Masuk MURI

Kereta eksekutif argo dengan nomor seri K1-02527 yang dihias eksteriornya dengan motif batik bercorak khas dari tiga daerah di Pulau Jawa dan salah satu tokoh pewayangan, Bima, masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Penyerahan sertifikat dari MURI diserahkan di Stasiun Bandung, Selasa (15/2) dan diterima langsung oleh Direktur Komersial PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Sulistyo Wimbo Hardjito. Acara penyerahan ini bertepatan dengan hari terakhir festival Kereta Batik dan Kuliner yang diadakan selama empat hari sejak Sabtu (12/2). Pembuatan kereta batik ini atas kerjasama PT. KAI dan PT. Reska Multi Usaha (RMU) serta tim dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB).  
Motif batik yang menghiasi seluruh badan kereta menggunakan tema “Restu Neng Buwono” atau yang berarti kedamaian di muka bumi. Pengerjaan dari kereta ini hanya membutuhkan waktu sekitar empat hari mulai dari Sabtu (12/2). Masing-masing motif dan corak yang terangkai bukanlah sebuah gambar semata. Melainkan melambangkan sebuah cerita dan cita-cita tulus dari semua pihak yang mencintai dan menginginkan kereta api untuk terus maju serta berkembang. Dalam gambar tersebut terdapat Tokoh Bima, Selendang Batik, Burung, serta Taman Bunga.
       
Kiri: Direktur Komersial PT. KAI Sulistyo Wimbo Hardjito (kiri) dan Direktur Operasional PT. RMU, Sri Kuncoro menabuh perkusi sebagai tanda peresmian kereta batik di Stasiun Bandung 
Kanan: Direktur Komersial PT. KAI, Sulistyo Wimbo Hardjito (kanan) menerima sertifikat MURI disaksikan oleh Direktur Utama PT. Reska Multi Usaha, Tintin Wisniwati.
                                         
Kiri: Yosef Adiguna (kiri) sebagai konseptor dari kereta batik, Rika Yusiska (tengah) dari MAP Digital Printing, serta Hasna Tsaniya (kanan) tim desain kereta batik, mengaku sangat bangga bisa berpartisipasi dalam pembuatan kereta ini.
Kanan: Kereta Batik siapa melayani penumpang KA Argo Parahyangan relasi Bandung - Jakarta PP.
Gambar tokoh wayang Bima yang melambangkan bahwa kereta api akan menjadi pemimpin dalam hal sarana transportasi di Indonesia. Hal ini berdasarkan dari Bima yang merupakan seorang pemimpin dari pasukan Pandawa serta memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh, dan jujur.
Lalu terdapat sebuah selendang batik yang memanjang, hal ini sebagai bentuk penghargaan kepada batik yang merupakan salah satu warisan budaya yang diakui oleh dunia milik dari Bangsa Indonesia. Dari selendang ini, melambangkan kereta api yang mempersatukan setiap golongan masyarakat Indonesia yang beragam suku, budaya, agama, dan ras menjadi sebuah rangkaian silaturahmi yang harmonis.
Sedangkan Burung merupakan simbol perdamaian, yang merupakan sebuah harapan dan doa bahwa kereta api akan selalu memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada konsumen, sehingga membuat kereta api menjadi yang terbaik dalam bidang sarana transportasi. Dan yang terakhir adalah Taman Bunga, yang melambangkan dari kota Bandung yang dikenal dengan julukan kota kembang. Juga perlambangan dari harapan kota Bandung yang akan selalu indah, asri, dan permai sebagai kota yang dikenal dengan pariwisata dan budaya.
Kereta ini akan digunakan pada rangkaian Argo Parahyangan yang melayani relasi Bandung – Jakarta pulang pergi. Dalam sambutan singkatnya, Wimbo berterima kasih kepada seluruh pihak yang turut terlibat dalam pembuatan kereta batik ini. “Semoga dengan adanya kereta batik ini, selain turut melestarikan kebudayaan batik nusantara yang kaya akan pesona, juga bisa memberikan pelayanan tambahan bagi pengguna jasa kereta api, serta semakin meningkatkan rasa cinta terhadap kereta api,” ujar Wimbo.Sumber:www.keretaapi.co.id

Argo Muria

KA Argo Muria dilaunch pertama kali tanggal 22 Desember 1997. Kereta api ini menawarkan alternative perjalanan dengan jadwal pemberangkatan pagi hari dari arah Semarang ke Jakarta dan sore hari dari arah sebaliknya






Diikiuti dengan peluncuran KA Argo Muria II pada tanggal 20 Mei 2001 yang menawarkan alternative perjalanan yang berkebalikan dengan KA Argo Muria I sehingga sejak itu tersedia dua jadwal pemberangkatan kereta api dari Semarang Tawang-Gambir maupun arah sebaliknya.


Perjalanan sejauh 445 km ditempuh dalam waktu 5 jam 30 menit dan hanya berhenti di Stasiun Tegal dan Pekalongan.


Argo selain berarti gunung juga merupakan brand image layanan kereta api eksekutif. Kata Muria berasal dari nama gunung (Gunung Muria) yang memiliki ketinggian 1.602 m diatas permukaan laut dan berada di sebelah Utara Kota Kudus (69 km dari arah Kota Semarang). Kawasan gunung ini terkenal dengan berbagai macam satwa langka seperti ; burung plontang, elang muria, rusa dank era.


Layanan kereta api yang memiliki kapasitas 350 tempat duduk ini terdiri dari 7 rangkaian kereta kelas eksekutif. Untuk perjalanan yang dilakukan pada siang hari, penumpang dapat menikmati indahnya panorama di Pesisir Pantai Utara khususnya atara Pekalongan-Semarang.

Jalur Bergerigi Di Indonesia

Di indonesia hanya ada 2 Jalur bergerigi (Ambarawa - Magelang dan Padang - Sawah Lunto) kenapa Belanda begitu gigih buat rel yg tentunya sangat mahal dan punya resiko yg Tinggi? kalo hanya sekedar transportasi

Pasti doang sebagian dari kita bertanya motifnya?
Jawabnya untuk yg di jawa Demi Gula/Tebu dan untuk yg di Sumatra Demi Batu Bara, yang kalo agan2 percaya Olimpiade Amsterdam itu di biayai oleh Gula dari Indonesia....!!!

secara tidak langsung orang Indonesia sebetulnya sudah bisa mengonkosi sebuah pesta olah raga terakbar di ini jagat , minimal kringetnya bangsa ini sudah di sumbang untuk Olimpiade 1928 yg cuman sayang di selengarakan bukan di Indonesia tapi di Amsterdam

Keretanya bukan di tarik tapi di dorong begini
Tapi sekarang sudah tidak di fungsikan sesuai tujuan awal,
malah kini stasiun Ambarawa jadi museum kreta api dan di jadikan kereta wisata, karena sudah tidak ada lagi gula dan tebu yg di angkut.

Minggu, 20 Februari 2011

CC 204

Lokomotif CC204 adalah sejenis lokomotif yang dirakit khusus di Indonesia, yaitu hasil kerjasama antara PT General Electric Lokomotif Indonesia yang merupakan perusahaan kerja sama antara General Electric Transportation dengan Industri Kereta Api Madiun (INKA). Lokomotif ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu CC204 produksi pertama yang bentuknya seperti CC201, dan CC204 produksi kedua yang bentuknya seperti CC203.
Keduanya sama-sama bergandar Co'Co'. Artinya adalah lokomotif dengan dua bogie, di mana setiap bogie mempunyai tiga poros penggerak yang masing-masing digerakkan oleh motor traksi tersendiri. Lokomotif ini mempunyai komponen komputer Brightstar Sirius yang dikembangkan oleh General Electric sehingga lokomotif jenis ini mampu memitigasi kerusakan sekitar 45 menit sebelum kerusakan itu terjadi. Mayoritas lokomotif ini terletak di dipo lokomotif Bandung (BD).CC204 Lokomotif CC204 08 dan seterusnya dibeli oleh PT. Kereta Api Indonesia senilai Rp 2.000.000.000,00. Lokomotif ini memiliki daya tarik hingga 12 gerbong. Kecepatan maksimal lokomotif yang diperbolehkan adalah 120 km/jam.